OpiniWawasan

Pesantren: Benteng Terakhir Moral Bangsa

Oleh: Dwi Giatno, S.M.*

———-

Pesantren Benteng Terakhir Moral Bangsa

Viralnya tayangan Trans7 yang menampilkan pesantren secara tidak pantas beberapa waktu lalu bukan sekadar kesalahan editorial. Ia adalah cermin dari kerapuhan moral publik dalam memahami makna pendidikan sejati. Pesantren dipersepsikan dengan kacamata sensasional, bukan substansi. Padahal di balik dinding sederhana pesantren, tersimpan ruh pendidikan yang selama ini menjaga akhlak dan peradaban bangsa.

Pesantren sejak awal berdiri tidak pernah memandang pendidikan semata sebagai proses transfer pengetahuan. Tidak terjebak pada angka sebagai nilai ataupun selembar ijazah dan gelar. Pesantren menempatkan ilmu sebagai jalan menuju kemanfaatan dan keberkahan hidup. Karena itu, para santri tidak hanya diajarkan berpikir logis, tetapi juga beradab dalam menuntut ilmu. Prinsip ini berakar kuat dalam kitab klasik Ta’limul Muta’allim, karya Syekh Az-Zarnuji, yang hingga kini menjadi pegangan hampir seluruh pondok pesantren di Nusantara.

Kitab tersebut menegaskan, keberhasilan seorang penuntut ilmu sangat bergantung pada adabnya kepada guru. Di dalamnya dikutip untaian hikmah Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang berbunyi:

> “Aku adalah hamba bagi orang yang mengajarkanku satu huruf saja. Jika ia mau, ia boleh menjualku, memerdekakanku, atau mengekalkan ku sebagai budak.”

Ungkapan ini mencerminkan pandangan luhur bahwa guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan perantara ilahi yang menyinari jalan ilmu. Maka, menghormati guru berarti memuliakan ilmu itu sendiri.

Baca Juga: Ziarah KH. Ma’shum Syamsuddin Perkuat Spirit Santri Blora

Adab seperti ini tidak berhenti pada tataran teori. Ia hidup dan berdenyut di pesantren: santri berdiri ketika guru datang, menundukkan kepala dengan penuh hormat, diam ketika guru berbicara, dan mendengarkan dengan sepenuh hati. Semua itu bukan ritual kosong, tetapi laku spiritual yang menumbuhkan rendah hati, keikhlasan, dan kesadaran bahwa ilmu tak bisa diraih dengan kesombongan.

Nilai-nilai semacam inilah yang kerap tidak dipahami oleh dunia luar pesantren. Sebagian orang modern mungkin melihatnya sebagai bentuk kepatuhan buta, padahal di situlah letak kecerdasan moral yang sesungguhnya. Pendidikan tanpa adab akan melahirkan generasi cerdas tapi tak tahu arah; pintar dalam logika, namun miskin dalam etika.

Maka, ketika media menampilkan pesantren secara serampangan, yang tercermin bukanlah kesalahan pesantren, melainkan krisis adab di ruang publik kita sendiri. Kita terlalu mudah menilai, terlalu cepat menghakimi, dan terlalu jarang menundukkan kepala di hadapan ilmu.

Hari Santri Nasional 2025 menjadi momentum tepat untuk mengingatkan kembali bangsa ini: bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan keagamaan, melainkan benteng terakhir moral bangsa. Di tengah derasnya arus informasi global, pesantren tetap menjaga keseimbangan antara kecerdasan dan adab, antara ilmu dan akhlak.

Karena sejatinya, kalau hanya ingin pintar, tak perlu repot-repot sekolah, cukup gunakan aplikasi kecerdasan buatan (AI). Tapi kalau ingin cerdas sekaligus beradab, maka belajarlah di pondok pesantren.

Selamat Hari Santri Nasional 2025, “Santri Siaga Jiwa Raga, Jaga Akhlak, Jaga Bangsa.”

*Penulis adalah Sekretaris Lakpesdam PCNU Blora dan Ketua Umum PC IKA-PMII Kabupaten Blora.


Eksplorasi konten lain dari PCNU KABUPATEN BLORA

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Admin PCNU Blora

Selamat datang di situs online Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Blora. Kami menyajikan Informasi, program dan kegiatan dari PCNU Blora, Lembaga dan Banom, MWC serta Ranting. Di samping itu kami juga akan menyampaikan opini atau artikel yang berhubungan dengan khazanah Ahlussunnah Wal Jamaah yang bisa dibaca oleh kalangan yang lebih luas. Semoga website ini bisa bermanfaat bagi banyak pihak, khususnya jamaah maupun jamiyah NU di Kabupaten Blora.

Tinggalkan Balasan