Wawasan

Lesbumi PCNU Blora Gas Pol dan Warisan Pramoedya Ananta Toer

Lailatul Ijtima’ kedua yang digelar oleh PCNU Blora pada 22 Februari 2025 di Pesantren Al Alif Setro menjadi saksi semangat luar biasa Lesbumi PCNU Blora dalam mengembangkan budaya dan sejarah.

Dalam kesempatan ini, H.M. Fatah menyampaikan apresiasi terhadap pergerakan Lesbumi yang semakin masif.

Lesbumi NU Blora Melaju Kencang

“Lesbumi sudah bergerak. Wah, kuencang ini Lesbumi, gas pol!” ujar H.M. Fatah dengan semangat.

Ia menyoroti rencana Lesbumi yang akan mengadakan FGD Historiografi NU Blora dengan mendatangkan narasumber dari Banyuwangi sebagai bukti bahwa semangat menjaga budaya dan sejarah semakin mengakar di Blora.

Lesbumi NU Blora juga aktif dalam berbagai kegiatan budaya, termasuk mengenalkan kembali warisan sastra dan sejarah yang melekat dengan kota Blora.

Salah satunya adalah keterlibatan dalam kegiatan yang berkaitan dengan Pramoedya Ananta Toer seperti Lesbumi PCNU Blora Dukung Penuh Festival Seabad Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer dan NU: Sebuah Hubungan yang Unik

Dalam kesempatan ini, H.M. Fatah menyinggung tokoh besar asal Blora, Pramoedya Ananta Toer. “Terus kemarin itu kegiatan Pramoedya Ananta Toer, itu juga yang banyak terlibat dari Lesbumi,” katanya.

Namun, di kalangan NU, masih ada sebagian yang memandang Pramoedya dengan skeptis. “Kalau orang NU itu masih ada yang alergi dengan Pramoedya Ananta Toer,” tambahnya.

Menarik dibaca: Membantah Klaim Soesilo Toer:  “Ayah Pramoedya Ananta Toer Bukan Pendiri PCNU Blora”

Meski demikian, ia menekankan bahwa Pramoedya tetap harus dihormati karena telah membawa nama Blora ke panggung dunia.

Jejak Keagamaan dalam Keluarga Pramoedya

Lebih lanjut, H.M. Fatah menjelaskan bahwa ayah Pramoedya, Mastoer, merupakan tokoh agama yang aktif di Muhammadiyah.

Sementara itu, mertuanya berasal dari kalangan NU di Rembang. Fakta ini menunjukkan bahwa keluarga Pramoedya memiliki latar belakang keagamaan yang kuat.

Meski dalam perjalanan hidupnya Pramoedya dikenal dengan pemikiran yang berbau kiri, menjelang akhir hayatnya ia berdamai dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Di akhir hayat itu damai dengan Gus Dur, karena itulah jadinya kita hormati,” ujar H.M. Fatah.

Warisan Pramoedya Ananta Toer di Mata Dunia

Pramoedya bukan hanya tokoh sastra nasional, tetapi juga diakui dunia. H.M. Fatah menceritakan pengalamannya saat berada di Amerika dan menemukan buku Pramoedya yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris.

“Saya waktu di Amerika mendapatkan salah satu bukunya Pram yang berjudul ‘The Story From Blora’. Beli di New York, itu karangannya orang Jetis,” ungkapnya. Bahkan, di luar negeri, terdapat “Pram Corner” yang dikhususkan untuk koleksi bukunya.

Menghormati Tokoh yang Membawa Nama Blora

Dengan segala kontroversinya, Pramoedya tetaplah sosok yang berjasa dalam membawa nama Blora ke dunia internasional. “Jadi sekedar dia membawa nama, terkenal Blora, itu kita hormati saja,” pungkas H.M. Fatah.

Sebagai bagian dari NU, Lesbumi NU Blora memiliki peran penting dalam menjaga dan menghormati warisan budaya, baik dari tokoh-tokoh NU maupun figur berpengaruh lainnya seperti Pramoedya Ananta Toer.

Semoga langkah-langkah yang telah diambil Lesbumi PCNU Blora terus berkembang dan semakin mengokohkan sejarah serta budaya Islam di tanah air.


Eksplorasi konten lain dari PCNU KABUPATEN BLORA

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Admin PCNU Blora

Selamat datang di situs online Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Blora. Kami menyajikan Informasi, program dan kegiatan dari PCNU Blora, Lembaga dan Banom, MWC serta Ranting. Di samping itu kami juga akan menyampaikan opini atau artikel yang berhubungan dengan khazanah Ahlussunnah Wal Jamaah yang bisa dibaca oleh kalangan yang lebih luas. Semoga website ini bisa bermanfaat bagi banyak pihak, khususnya jamaah maupun jamiyah NU di Kabupaten Blora.

Tinggalkan Balasan