News

LPPNU BLORA TERUS BENAHI TATA KELOLA PERTANIAN ORGANIK

Blora, PCNUBLORA – Musim tanam yang kedua pada tahun ini menjadi perhatian khusus bagi Lembaga Pengembangan Pertanian PCNU Kab. Blora. Pasalnya peluang pemasaran beras organik yang besar belum mampu terkelola secara maksimal. Alwi Abbas selaku ketua LPPNU Blora menyampaikan bahwa kolaborasi dengan berbagai lembaga menjadi agenda yang mendesak untuk dilakukan.

Pertanian Organik

“Sebenarnya kita sudah punya alternatif pengelolaan pertanian organik dari hulu hingga hilir seperti yang sudah berjalan di desa Sonokidul kecamatan Kunduran. Dimana kelompok petani Sarwo Tulus binaan LPPNU Blora bekerjasama dengan BUMDes setempat” ujarnya. Kerjasama tersebut menurut Abbas bisa direplikasi di berbagai daerah yang terdapat kelompok tani Sarwo Tulus.

Kerjasama BUMDes dengan kelompok tani Sarwo Tulus di Desa Sonokidul mencakup penyediaan bibit, saprotan hingga pembelian pasca panen padi organik.

” Pola kerjasama tersebut sudah berjalan di Sonokidul pada musim tanam kemarin dan terdapat 6 petani padi organik dengan luasan sekitar 1,5 ha yang bisa menghasilkan kira kira 7 ton beras organik” tambahnya.

Pertanian organik yang diprakarsai oleh lembaga tersebut telah tersebar di berbagai kecamatan. Tercatat hanya ada dua kecamatan di Blora yang belum terdapat kelompok tani Sarwo Tulus binaan LPPNU Blora. “ Hanya ada dua kecamatan yang belum ada kelompok tani organik binaan LPPNU Blora yaitu kecamatan Jati dan Cepu.” Imbuh pria yang sempat aktif di organisasi IPNU Blora ini.

Produk pertanian organik memiliki banyak keunggulan seperti lebih sehat dan lebih ramah lingkungan. Namun di samping itu juga terdapat kendala untuk beralih ke pola organik khususnya di Blora.

Seperti yang dikatakan salah seorang petani, Imam warga Desa Keser, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora menyampaikan beberapa kendala yang dihadapi selama beralih ke padi organik. Menurutnya padi organik belum populer dikalangan masyarakat, pangsa pasar belum terbentuk, pasokan air pun kerap jadi kendala.

“Beras organik sangat bermanfaat bagi kesehatan, banyak keunggulan dan harga jual tinggi. Namun masyarakat belum bisa meyakini beras organik karena tidak ada jaminan sertifikasi,” ungkapnya.

Kendala yang dihadapi dari hulu hingga hilir dalam menerapkan pertanian organik di Blora menjadi fokus perhatian LPPNU Blora. “kita berkomitmen untuk mengawal program pertanian organik ini, karena kita meyakini bahwa pertanian organik adalah ikhtiar kita untuk merawat bumi” pungkas Abbas. (mlb)

 


Eksplorasi konten lain dari PCNU KABUPATEN BLORA

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.