Bupati Blora dan NU Bahas Tarekat Pertanian Organik
KUNDURAN, PCNUBLORA – Pemerintah Kabupaten Blora bersama Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) PCNU Blora dan Kelompok Tani Sarwo Tulus (KTST) menggelar dialog bertema “Membangun Ketahanan Pangan Melalui Pertanian Organik: Dari NU Menuju Blora Kabupaten Organik” di Balai Desa Sonokidul, Kecamatan Kunduran, Senin (2/6/2025).

Dialog yang dimulai pukul 14.00 WIB ini dihadiri oleh Bupati Blora H. Arief Rohman, Ketua DPRD Blora H. Mustofa, Kepala DP4 Blora Ngaliman, Forkopimcam Kunduran, Kepala Desa Sonokidul, penyuluh pertanian, petani KTST se-Kabupaten Blora, MWCNU Kunduran, Ansor-Banser, dan tokoh masyarakat setempat.
Baca Juga : Pertemuan Alumni PKPPNU Blora Bahas Masa Depan KTST
Dalam sambutannya, Ketua PCNU Blora H. Muhammad Fatah menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan Bupati Blora yang hadir langsung untuk berdialog sekaligus mengikuti panen raya padi organik di sawah milik kader KTST, Dwi Giyatno. Ia menyebut kehadiran Bupati sebagai bentuk komitmen terhadap cita-cita menjadikan Blora sebagai pelopor kabupaten organik.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih, Pak Bupati berkenan hadir dan ikut panen padi organik. Ini selaras dengan semangat NU Blora untuk membumikan pertanian rahmatan lil alamin, sebagai bentuk ibadah dan kasih sayang kepada alam semesta,” ungkap H. Muhammad Fatah.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pertanian organik adalah bagian dari ijtihad PCNU dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. “Secara spiritual, bertani adalah ibadah. Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang mengajarkan bertani secara lestari, bukan merusak. Maka dari itu, kami mendorong petani NU untuk kembali ke alam dan kemandirian produksi,” jelasnya.
LPP PCNU Blora disebut telah memulai gerakan ini sejak 2021, dimulai dari rumah-rumah kader seperti KH Abdul Ghofur di Kedungtuban dan Pak Zaini, serta melalui pelatihan PKPPNU dan praktek pembuatan pupuk organik seperti bokashi, POC, decomposer, hingga agens hayati.
“Semua bahan dibuat dari potensi lokal. Gratis. Yang berbiaya hanya fermentornya. Kami ingin petani mandiri dan tidak tergantung tengkulak,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Arief Rohman menyambut baik inisiatif NU Blora. Ia menyatakan Pemkab siap bersinergi dengan LPP dan KTST, bahkan meminta program ini diperluas hingga tiap desa memiliki minimal 1 hektar lahan organik.
“Kami minta format pelatihannya disusun LPPNU. Kami akan kawal standarisasi produk dan pemasaran, termasuk dengan melobi pasar. Kami juga bersinergi dengan perguruan tinggi untuk riset tanah dan teknologi tepat guna,” tegas Arief.

Bupati juga mengusulkan agar kader-kader NU, dari Ansor, Banser, IPNU, hingga Fatayat bisa dilibatkan dalam program petani milenial. “Sektor pangan ini tidak akan lekang oleh zaman. Harus ada regenerasi,” tambahnya.
Menarik Dibaca : LPPNU BLORA TERUS BENAHI TATA KELOLA PERTANIAN ORGANIK
Ketua DPRD Blora, H. Mustofa juga menyatakan dukungannya. Ia berharap para kepala desa menyediakan lahan untuk dijadikan percontohan pertanian organik.
“Harapannya, hasil panen organik bisa disosialisasikan. Masyarakat harus tahu bahwa pertanian tanpa pupuk kimia tetap menghasilkan,” katanya.
Dialog semakin hidup ketika beberapa petani menyampaikan pengalamannya. Sonhaji, Ketua KTST Banjarejo, menyampaikan bahwa tantangan terbesar justru datang dari keluarga sendiri. “Tapi setelah saya jalani, hasilnya luar biasa. Sejak 2018 saya sudah 100% organik,” ujarnya, sembari meminta bantuan pengadaan sumur sawah.
Petani lain, Jumarno, menceritakan perjuangan bertani organik di daerah Kalangan yang dekat tempat pembuangan sampah. Ia mengusulkan normalisasi kali sebagai solusi pengairan dan berharap kepala desa bisa lebih mendukung pertanian organik.
Acara ditutup dengan panen raya padi organik di lahan milik Dwi Giyatno, sebagai bentuk konkret bahwa pertanian berbasis nilai spiritual, sosial, dan ekologis ini mampu menjadi solusi ketahanan pangan yang berkelanjutan di Kabupaten Blora.
“Kami akan mulai pelatihan kembali bulan Juli agar saat musim tanam pertama semua petani sudah siap,” pungkas H. Muhammad Fatah.
Dengan sinergi antara pemerintah, NU, dan masyarakat, Kabupaten Blora semakin mantap melangkah menjadi kabupaten pelopor pertanian organik nasional—dari ladang kecil di desa, menuju perubahan besar untuk bumi dan kemanusiaan.
Eksplorasi konten lain dari PCNU KABUPATEN BLORA
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Pingback: Blora Menuju Kabupaten Organik, NU Blora Pelopori Gerakan Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Pingback: Pemkab Blora dan PCNU Teken MoU Pengembangan Pertanian Organik
Pingback: MWCNU Tunjungan Resmi Buka PD-PKPNU PCNU Blora Angkatan V