Antusias Kader Fatayat Muslimat Semarakkan Haul KH Masyhuri Umar

Banjarejo, PCNUBLORA – Bulan Muharram dikenal sebagai bulannya para wali. Banyak para waliyullah diperingati hari wafatnya (haul) di bulan tersebut. Salah satunya adalah haul Almaghfurlah KH Masyhuri Umar, yang merupakan salah satu ulama kharismatik yang berasal dari Desa Mojowetan, Banjarejo, Blora, yang peringatan haulnya jatuh pada bulan Muharram ini, tepatnya pada tanggal 7 Muharram 1444 H.
Dalam peringatan Haul KH Masyhuri Umar tersebut panitia mengagendakan berbagai macam acara, salah satunya adalah acara pengajian yang khusus disediakan bagi kader muda Fatayat dan juga ibu-ibu Muslimat di tingkat Pimpinan Anak Cabang (PAC) Banjarejo. Pengajian ini dilaksanakan pada hari Kamis, (4/8) di halaman Pondok Pesantren Sabilurrosyad Mojowetan, Banjarejo, Blora.
“Panitia sengaja menyediakan waktu tersendiri bagi Ibu-ibu dalam peringatan Haul Abah karena ibu-ibu biasanya sangat antusias dalam menghadiri pengajian-pengajian, harapannya semoga keluarga dari jamaah memperoleh keluberan barokah dari para masyayikh khususnya Romo Yai Abah Masyhuri”, papar Ketua Panitia, Maghfur.
Selain pengajian khusus ibu-ibu tersebut, acara pengajian ini juga diawali dengan tahtiman Al Qur’an oleh santri Pondok Pesantren Sabilurrosyad dan juga tahtiman Juz Amma oleh santri Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) Tarbiyatul Aulad yang merupakan lembaga non formal di bawah naungan Yayasan As Syakur peninggalan dari KH Masyhuri.
Dalam sambutan Shohibul Bait, K. Subhan Masyhuri menjelaskan tentang tema peringatan haul tahun ini, yaitu Hasbunallah wa Nikmal Wakil. Gus Sub (sapaan akrab) menyampaikan bahwa tema itu erat kaitannya dengan syukur.
“Syukur tidak hanya saat kita mendapatkan nikmat saja, namun juga syukur ketika kita tidak mendapatkan nikmat, menurut kaca mata kita orang awam,” tuturnya.
Gus Sub mencontohkan saat kemarin kita gagal panen padi, apakah kita akan syukur? Ibu-ibu serempak menjawab ”boten”. Lalu Gus Sub menjelaskan sejatinya saat Gusti Allah tidak memberikan panen, justru Gusti Allah “ngepenakke awak dewe” artinya kita tidak perlu repot-repot “rekoso” menjemur padi, yang harus panas-panasan, gatal-gatal dan lain sebagainya.
Gus Sub juga menambahkan tanpa panen padi pun, apakah ibu-ibu bisa beli bedak, skincare, bisa tik tok kan, update status? Ibu-ibu kompak menjawab “saget” sambil tertawa terpingkal-pingkal. Akhir dari sambutannya Gus Sub mempertegas lagi tentang tema haul, agar menjadi ghirah bagi ibu-ibu dalam berperilaku sehari-hari.
Pengajian ibu-ibu ini mengundang Ibu Nyai Hj. Rahmawati Syahid dari Kemadu, Rembang sebagai pembicara dalam mauidhoh hasanah. Dalam mauidhohnya Ibu Nyai menambahkan penjelasan tentang syukur. Syukur atas apa yang kita miliki. Tidak usah menunggu saat kaya, punya rumah bagus. Kalau harus menunggu seperti itu sampai kapan. Berarti kalau tidak kaya tidak punya mobil tidak mau bersyukur. Hal itu justru akan menumbuhkan kufur. (jjk)
Eksplorasi konten lain dari PCNU KABUPATEN BLORA
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
