FGD Historiografi NU Blora: Membangun Sejarah NU Lokal
Blora, PCNUBlora – Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Peningkatan Kapasitas Historiografi NU Blora” digelar pada Rabu, 26 Februari 2025, di lantai 2 Gedung PCNU Blora.

Acara ini merupakan kolaborasi antara Lesbumi PCNU Blora dan LTN PCNU Blora, dengan menghadirkan Ayung Notonegoro, founder Komunitas Pegon, sebagai narasumber utama.
FGD ini diikuti oleh sekitar 25 peserta, yang terdiri dari pengurus Lesbumi, LTN, PCNU Blora, Lesbumi Bojonegoro dan pegiat sejarah. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali lebih dalam sejarah NU Blora, sekaligus membangun pondasi historiografi NU yang lebih kokoh.
Ketua Lesbumi PCNU Blora, Dalhar Muhammadun, menegaskan pentingnya keseriusan dalam menjaga sejarah NU Blora.
“Siapa yang tidak kenal Mas Ayung? Beliau ini profesor spesialis manuskrip. Bahkan dalam bidang filologi, saya akui keilmuannya lebih unggul dari beberapa akademisi,” ujarnya dalam sambutan.
Dalhar juga menyoroti pentingnya komunikasi yang lancar dalam penyusunan sejarah.
“Harapan kita, jika nanti terbentuk tim historiografi, Mas Ayung bisa tetap mendampingi, baik dari jauh maupun dekat,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Amin, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, sebagai sponsor tunggal acara ini.
Ketua PCNU Blora, dalam hal ini diwakili oleh Dr. Imron, mengapresiasi inisiatif Lesbumi dan LTN PCNU dalam menggali sejarah NU Blora. Ia mengungkapkan bahwa keinginan untuk menulis sejarah NU Blora sudah lama ada, tetapi terkendala berbagai hal.
“Saya berterima kasih kepada LTN dan Lesbumi yang telah memulai langkah ini. Menulis adalah jalan keabadian. Orang akan mengingat PCNU, tetapi mereka akan lebih ingat kepada penulisnya,” tegasnya.
Menarik Dibaca : Lesbumi PCNU Blora Dukung Penuh Festival Seabad Pramoedya Ananta Toer
Ia juga menyinggung kisah Kyai Agus Sunyoto, yang berhasil membuktikan bahwa Resolusi Jihad NU bukan fiktif setelah melakukan penelitian hingga ke Belanda dan Jepang.
Acara pembukaan kemudian ditutup dengan doa oleh KH. Syubhan Masyhuri dan dilanjutkan dengan sesi diskusi lanjutan yang dipandu oleh moderator dengan narasumber utama Ayung Notonegoro founder Komunitas Pegon
Sebagai narasumber utama, Ayung Notonegoro menekankan bahwa historiografi NU harus berbasis data yang valid. Ia berbagi pengalaman dalam meneliti sejarah NU Banyuwangi, yang membutuhkan kerja keras dalam pengumpulan, verifikasi, dan publikasi data.
“NU tidak hanya satu entitas tunggal. Sejarah nasional tidak mungkin tanpa sejarah lokal. Oleh karena itu, kita harus menyusun ulang peran-peran NU di daerah,” jelasnya.
Menurutnya, mencari data sejarah NU tidak bisa hanya mengandalkan sumber lisan. Ada banyak sumber tertulis yang bisa ditemukan di berbagai tempat, seperti Perpustakaan PBNU, Perpusnas, dan museum-museum di Surabaya.
Baca juga : Lesbumi PCNU Blora Digitalisasi Manuskrip Bersejarah NU
Dalam sesi diskusi, salah satu peserta, Pak Suyatmin, menanyakan metode verifikasi data lisan agar dapat dijadikan fakta sejarah. Dr. Imron menambahkan bahwa klaim NU Blora sebagai PCNU pertama masih perlu dikaji lebih dalam.
“Secara manuskrip kita kalah, tetapi saya yakin masih ada sumber lain yang bisa ditemukan,” katanya.
Sementara itu, Riski dari Bojonegoro menyampaikan bahwa Blora sudah menjadi pusat ekosistem NU sebelum organisasi ini resmi berdiri. Ia menyebutkan adanya kitab Fathul Mu’in tahun 1820 yang ditemukan di Kedung Kluwih sebagai bukti bahwa Jepon pernah menjadi episentrum keilmuan Islam di Blora.
Diskusi ini diakhiri dengan pernyataan Ayung Notonegoro mengenai pentingnya membangun historiografi NU dengan pendekatan yang sesuai dengan nilai-nilai NU, tanpa harus terpaku pada metode historiografi Barat.
“NU punya cara sendiri dalam menulis sejarahnya. Kita harus mulai dari sekarang, karena sejarah NU Blora tidak hanya ada di Blora, tetapi juga tersebar di banyak tempat,” pungkasnya.
Eksplorasi konten lain dari PCNU KABUPATEN BLORA
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
