Rasa Susah Dibolehkan Dalam Islam

Tunjungan, PCNUBLORA – Islam ternyata dalam salah satu riwayat memperbolehkan manusia memiliki perasaan susah. Berikut ini PCNU Blora akan menyajikan rasa susah yang dibolehkan dalam Islam.
Seperti dikatakan oleh Kyai Mukhlas dalam ngaji selapanan malam Selasa Kliwon di Ponpes Al Ridwan, Tunjungan, Blora, Senin (1/8), hadis dalam kitab Usfuriyah menjelaskan, suatu pagi ketika nabi bertemu dengan sahabat Ali bin Abi Thalib dan bertanya kabar.
“Sahabat Ali menjawab, saya dirundung empat kesusahan wahai nabi. Pertama, di rumah tidak ada apa-apa selain air minum. Kedua, saya susah ketika tidak bisa taat kepada Allah. Ketiga, susah besok masuk surga atau neraka. Keempat, susah jika malaikat maut menjemput, bekalku apa?,” terang Mukhlas yang menceritakan percakapan antara Nabi Muhammad dengan sahabat Ali.
Nabi menjawab, lanjut Mukhlas, susah karena ekonomi keluarga dapat menutup dari panas api neraka. Susah karena takut tidak taat kepada Allah menjadikan aman terhadap azab. Susah besok kelak masuk ke neraka atau surga dianggap sebagai jahat fisabilillah. Serta susah jika malaikat pencabut nyawa menjemput, sudah punya bekal apa itu bisa melebur dari beberapa dosa.
“Dari cerita ini ternyata orang boleh susah. Ketika susah kan pasti ada usaha. Ketika sudah usaha pasti tawakal kepada Allah. Maka susah diperlukan, tapi ya ojo nemen-nemen (tapi ya jangan keterlaluan),” jelas Mukhlas.
Ia menambahkan, ada dosa yang tidak bisa dilebur dengan ganjaran, tidak bisa dilebur dengan sholat, puasa, haji, umroh. Dan yang bisa melebur yaitu susah dalam mencari rezeki atau bekerja. Orang lebih memilih datang ke majelis ilmu dan meninggalkan bekerja.
“Ono perkoro seng dekne gak perlu disusahi tapi dekne susah. Ono perkoro seng dekne kudune susah malah ora susah (ada sesuatu yang dia tidak perlu disusahi tapi dia susah. Ada sesuatu yang dia harus susah tapi kok tidak susah). Niki ingkang perlu diinggati (inilah yang perlu dihindari),” imbuhnya.
Selain menjelaskan tentang kesusahan, Mukhlas juga menyampaikan terkait dengan kenikmatan. Karena dia merasa saat ini kerap orang yang lupa dengan banyaknya nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Salah satunya ialah nikmat sehat.
Dia mencontohkan, kelihatannya orang berjalan tapi tertidur. Jika sudah meninggal dunia, orang baru merasa bangun. Maksudnya, hilang kesadaran akan pentingnya ibadah. Kalau sudah meninggal baru sadar, ternyata mendatangi pengajian, ibadah, ikut majelis kamu itu ternyata penting. Kyai Mukhlas mewanti-wanti agar jangan seperti itu.
“Urip ning dunyo kudu nganggep akherat penting (hidup di dunia harus menganggap akhirat penting). Nek mentingno dunyo pasti rugi (jika mementingkan dunia pasti rugi). Karena mencari dunia tidak akan puas. Di dunia jangan sampai hanya mencari kebahagiaan dunia,” bebernya. Sehingga rasa susah itu dibolehkan dalam Islam. Hanya saja jangan pernah melupakan usaha dan tawakal kepada Allah. Niscaya akan ada pahala dan kenikmatan yang menantinya (Jml).
Eksplorasi konten lain dari PCNU KABUPATEN BLORA
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Masyaallah