Kyai Ma’sum Kidangan, Pengemban Dawuh KH. Hasyim Asy’ari
Sudah banyak diketahui nahdliyin Blora bahwa Kyai Ma’sum Kidangan adalah tokoh utama dan Pengurus Cabang NU pertama di Indonesia. Hal itu berawal dari penyebaran kliping surat kabar lama yang disimpan H. Iskandar Abdul Halim (mantan ketua GP Ansor Blora era 60an) yakni Majalah LINO yang terbit bulan Mei tahun 1971.

Bagaimana Blora bisa menjadi Cabang NU pertama? Padahal kala itu Blora bukanlah wilayah yang penduduknya dominan kaum santri. Dominasi santri di Blora kala itu masih kalah jika dibandingkan dengan kota-kota lain semisal Rembang, Kudus, dan Demak.
Kyai Ma’sum Kidangan adalah seorang pendatang yang lahir di Desa Tinatah, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang. Menurut Kyai Rodli bin Kyai Muntaha Tempel, Jepon, Kyai Ma’sum pada waktu muda menuntut ilmu kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Di Bangkalan jugalah Kyai Ma’sum mengalami satu masa dengan KH. Hasyim Asy’ari.
Dari sisi usia, informasi ini terkonfirmasi karena KH. Hasyim Asy’ari wafat tahun 1947 dalam usia 76 tahun, sementara Kyai Ma’sum kapundut di tahun yang sama dalam usia yang sangat sepuh.
Ada juga informasi lain yang menyebutkan bahwa Kyai Ma’sum berguru kepada KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang. Kesaksian Nyai Cholil, menantu Kyai Ma’sum tersebut memberi gambaran kemungkinan bahwa Kyai Ma’sum termasuk sekelompok kyai yang secara khusus dan dalam jangka waktu tertentu hadir di Tebuireng untuk mengaji kepada KH. Hasyim Asy’ari sebagaimana banyak dijelaskan di manaqib beliau.
Berdasar dua sumber lisan tersebut, dapat dimengerti bahwa Kyai Ma’sum memang memiliki keterkaitan tertentu dengan KH. Hasyim Asy’ari, baik di Bangkalan, Tebuireng atau keduanya.
Tetapi -menurut penulis- kecil kemungkinan Kyai Ma’sum berguru kepada KH. Hasyim Asy’ari di waktu muda karena usia keduanya sebaya, bahkan cenderung Kyai Ma’sum lebih sepuh.
Dawuh KH. Hasyim Asy’ari Kepada Kyai Ma’sum Kidangan

Masih menurut Kyai Rodli bin Kyai Muntaha, suatu hari di tahun 1926, Kyai Ma’sum dan Kyai Muntaha Tempel sowan ke Jombang dengan hajat untuk meminta restu kepada KH. Hasyim Asy’ari tentang rencana mendirikan jamaah jum’at di Tempel Jepon. Keduanya berangkat menggunakan kereta dari Stasiun Jepon menuju Jombang.
Sewaktu sowan menghadap, tidak hanya mendapat restu atas keinginan mendirikan jama’ah jum’at di Desa Tempel, tetapi juga menerima dawuh langsung dari KH. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan Nahdlatul Ulama di Blora.
Dawuh dari Hadratus Syaikh inilah yang diwujudkan Kyai Ma’sum dengan membentuk kepengurusan Nahdlatul Ulama di Blora, yang menurut catatan LINO diresmikan pada tahun 1927 di Kidangan Jepon, bersamaan dengan acara khitanan Kyai Cholil putra Kyai Ma’sum.
Dari penggalan kisah tersebut terjelaskan bahwa berdirinya NU Blora sebagai cabang pertama di Indonesia tidak hanya mengacu pada berita yg ditulis Majalah LINO, tetapi juga dikuatkan dengan sumber-sumber lisan lainnya.
Di sisi lain, terdapat unsur ‘ketidaksengajaan’ yang menyertai proses menuju berdirinya NU Cabang Blora. Karena hajat utama yang dibawa Kyai Ma’sum dan Kyai Muntaha adalah memohon restu untuk mendirikan jama’ah jum’at di Tempel.
Waktu berdirinya NU Cabang Blora tersebut mendahului daerah-daerah lain karena diilhami dawuh langsung dari KH. Hasyim Asy’ari. Sementara keputusan resmi NU untuk membentuk kepengurusan setingkat cabang di daerah-daerah kabupaten baru ditetapkan pada Muktamar ke 4 di Semarang tahun 1929.
Ditulis oleh Dalhar Muhammadun (Ketua Lesbumi PCNU Blora)
Eksplorasi konten lain dari PCNU KABUPATEN BLORA
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Pingback: KH Muhammad Ma’shum Fathoni, Ulama Blora Produktif Menerjemahkan Kitab