KH Muhammad Ma’shum Fathoni, Ulama Blora Produktif Menerjemahkan Kitab
KH Muhammad Ma’shum Fathoni, atau yang akrab dikenal sebagai Mbah Kyai Ma’shum, adalah sosok ulama kharismatik asal Blora yang masih produktif menerjemahkan kitab di usianya yang ke-75 tahun.
Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Mansyaul Huda Bogorejo, sebuah pesantren salaf yang tetap menjaga tradisi keilmuan klasik.
Sejak kecil, Kiai Ma’shum dikenal tekun mempelajari ilmu agama Islam dan menimba ilmu di berbagai pondok pesantren ternama, termasuk Pondok Pesantren Sarang Rembang dan bahkan melanjutkan belajar ke Makkah, Arab Saudi.
Berkat kegigihannya, beliau berhasil menerjemahkan berbagai kitab kuning ke dalam bahasa Jawa agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat, termasuk Kitab Qawaid Fiqhiyyah dan Alfiyah Ibnu Malik.
Di tengah perkembangan zaman, Kiai Ma’shum tetap beradaptasi dengan teknologi. Meski pondok yang diasuhnya mempertahankan model pendidikan salaf murni, beliau memanfaatkan perangkat digital seperti tablet untuk menerjemahkan kitab-kitabnya.
Keistiqomahannya dalam menyebarkan ilmu agama Islam menjadikannya panutan bagi santri dan masyarakat Blora. Artikel ini akan membahas perjalanan intelektual dan kontribusi besar KH Muhammad Ma’shum Fathoni dalam dunia keilmuan Islam.
1. Biografi Singkat KH Muhammad Ma’shum Fathoni

KH Muhammad Ma’shum Fathoni atau Mbah Kiai Ma’shum lahir di Blora pada 1 Juli 1950. Beliau berasal dari Dukuh Kedungglonggong, Desa Bogorejo, Kecamatan Bogorejo, Blora. Sejak kecil, Kiai Ma’shum dikenal sebagai sosok yang gemar mempelajari ilmu agama Islam. Di usia senjanya yang ke-75, beliau masih aktif menerjemahkan kitab.
Beliau merupakan generasi ketiga pengasuh Pondok Pesantren Mansyaul Huda, yang didirikan oleh kakeknya, KH Muhammad Tamyiz. Setelah wafatnya sang ayah, KH Muhammad Fathoni, Mbah Ma’shum meneruskan kepemimpinan pondok tersebut.
2. Menuntut Ilmu di Makkah dan Indonesia
Sejak remaja, Kiai Ma’shum menimba ilmu di berbagai pondok pesantren. Beliau pernah nyantri di Pondok Pesantren Sarang, Rembang, dan berguru kepada KH Abdul Wahab Husain Sulang. Tidak hanya di tanah air, beliau juga menempuh pendidikan agama di Makkah, Arab Saudi.
Di Makkah, beliau belajar kepada empat ulama besar, yaitu:
- Syaikh Abdullah bin Said Al Lahji
- Syaikh Yasin Al Fadani Al Makki
- Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki
- Syaikh Ismail bin Utsman Al Tamani
Salah satu kitab yang diperoleh dari gurunya, Qawaid Fiqhiyyah, diterjemahkan oleh Mbah Ma’shum ke dalam bahasa Jawa agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat.
3. Kiprah di Pondok Pesantren Mansyaul Huda Blora
Pondok Pesantren Mansyaul Huda merupakan salah satu pesantren salaf yang tetap mempertahankan tradisi keilmuan klasik. Di pondok ini, santri tidak belajar ilmu umum, melainkan fokus pada pengkajian kitab-kitab kuning.
Pondok ini telah berdiri selama ratusan tahun dan masih bertahan meskipun tanpa bantuan dari pemerintah. Renovasi pondok dilakukan secara mandiri dengan sumber dana yang tidak terikat.
4. Menerjemahkan Kitab-Kitab Islam ke Bahasa Jawa

KH Ma’shum telah menerjemahkan banyak kitab ke dalam bahasa Jawa, di antaranya:
- Matholiul Jauhariyah fi Terjemah Qowaidul Fiqhiyyah (kaidah fiqih)
- Kitab ‘Aunul Bais (ilmu hadits)
- Terjemah Sullam Munawraq (ilmu mantiq/logika)
- Halul Isyarah
- Terjemah Alfiyah (tata bahasa Arab)
Selain itu, beliau juga menerjemahkan kitab-kitab kecil yang membahas berbagai disiplin ilmu, termasuk tauhid, doa, dan politik.
BACA JUGA : Kyai Ma’sum Kidangan, Pengemban Dawuh KH. Hasyim Asy’ari
5. Keistiqomahan dalam Menulis dan Melek Digital
Meskipun telah lanjut usia, Mbah Ma’shum tetap produktif dalam menulis dan menerjemahkan kitab. Menariknya, beliau menggunakan tablet untuk mengetik dan menyusun kitab-kitabnya. Beberapa kitab yang telah diterjemahkan bahkan menghabiskan lebih dari satu tablet.
Beliau juga memiliki kebiasaan membaca dan menelaah kitab berkali-kali sebelum menerjemahkannya. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa terjemahannya sesuai dengan makna asli kitab.
6. Peran KH Muhammad Ma’shum Fathoni di PCNU Blora

Selain sebagai pengasuh pesantren, KH Ma’shum juga menjabat sebagai Rois Syuriyah PCNU Blora. Dalam perannya, beliau terus membimbing masyarakat dalam memahami hukum-hukum Islam serta menjaga tradisi pesantren salaf di Blora.
7. Harapan dan Warisan Keilmuan untuk Generasi Muda
KH Ma’shum berharap bahwa kitab-kitab yang telah diterjemahkan dapat tersebar luas dan bermanfaat bagi masyarakat. Dengan adanya kitab dalam bahasa Jawa, masyarakat dapat lebih mudah memahami ilmu agama.
Meskipun era modern semakin berkembang, Pondok Mansyaul Huda tetap eksis sebagai pondok salaf yang menjaga tradisi keilmuan Islam klasik. Dengan dedikasi dan keistiqomahannya, KH Ma’shum menjadi sosok inspiratif bagi generasi muda untuk terus menuntut ilmu dan menjaga warisan pesantren salaf.
Eksplorasi konten lain dari PCNU KABUPATEN BLORA
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
