Ketika Tiga Jomblo Mewakili PCNU
PCNU Blora – Mengenang seorang tokoh yang lahir 80 tahun yang lalu, tepatnya 8 Agustus 1942. Dialah KH. Ahmad Zaini bin Abu Umar, dari Dukuh Sasak, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo.

Sejak muda ia aktif di kepengurusan NU. Mulai dari Ansor sampai Katib Syuriyah PCNU Blora. Bahkan sewaktu dipanggil ke rahmatullah, 26 Februari 2022 yang lalu, namanya masih tercatat sebagai A’wan PCNU Kabupaten Blora.
Penulis jadi teringat sebuah pertemuan yang sengaja penulis lakukan –kurang lebih dua tahun sebelum KH. Ahmad Zaini wafat– untuk mendengarkan cerita-cerita lama yang pernah dialaminya.
Di antara cerita-cerita itu, akan penulis sarikan menjadi kisah berikut ini.
Suatu hari di tahun 1960an, PCNU Blora harus menghadiri tiga acara sekaligus di tiga MWC NU yakni Randublatung, Banjarejo dan Tunjungan.
H. Basuki Rustam, ketua Tanfidziyah PCNU kala itu, lebih memilih menugaskan kepada anak-anak muda dibanding para senior lainnya. Diutuslah tiga anak muda yang kesemuanya masih lajang, alias jomblo.
Mereka adalah H. Imam Mujtaba, ketua Lesbumi putra sulung Rois Syuriyah PCNU, KH. Ihsan Fadil. Kedua, KH. Muhadi Bogorejo, seorang santri mutakhorijin Lirboyo yg saat itu masih berambut gondrong dan belum lama pulang dari pondok.
Ketiga, KH. Ahmad Zaini, penutur cerita ini yang sampai akhir hayatnya tetap istiqomah berkhidmat di Madrasah Diniyah Al Kautsar Jetis, Blora.
Bagi penulis, ada yang terasa istimewa dengan pilihan H. Basuki Rustam yg jatuh kepada anak-anak muda dibanding para pengurus senior lainnya.
“Apakah H. Basuki Rustam memang cukup dekat dengan anak-anak muda?” tanya penulis saat itu.
Dengan tegas KH. Ahmad Zaini mengiyakan pertanyaan itu.
“Tidak ada anak-anak muda NU saat itu yang tidak pernah makan di rumah Pak Basuki Rustam, ” sautnya. Seakan ingin menggambarkan betapa H. Basuki Rustam sangat perhatian generasi muda.
Kesan senada juga pernah penulis dengar dari tokoh-tokoh lain yang pernah berinteraksi langsung dengan H. Basuki Rustam, di antaranya; H. Amin Sukaji, H. Zubaidi dan Kyai Shodiq Abdul Hayyi. Tiga nama yang tersebut terakhir juga merasakan salah satu keistimewaan H. Basuki Rustam, yakni perhatian dan kedekatannya dengan anak-anak muda NU di era 1960 an.
Singkat cerita, berangkatlah ketiga anak muda itu ke tujuan masing-masing. H. Imam Mujtaba yang saat itu sudah memiliki motor mendapat tugas di kecamatan terjauh yakni Randublatung. Sementara KH. Muhadi dan KH. Ahmad Zaini, masing-masing ke Banjarejo dan Tunjungan dengan bersepeda.
Kembali ke shohibul kisah, dengan semangat mudanya, Ahmad Zaini mengayuh sepeda angin menuju Tunjungan. Sebelumnya ia menerima pesan untuk mampir dahulu ke rumah H. Mustajab Ali, Sukorame, Ketua MWC NU Tunjungan saat itu.
Di rumah menantu Kyai Tamyiz, Langgar Dhuwur, yang juga seorang naib tersebut, Ahmad Zaini dijamu dengan sangat baik layaknya pengurus NU Cabang yang sesungguhnya.
Usia tamu yang masih muda tak mengurangi penghormatan yang diberikan tuan rumah kepadanya. Setelah perjamuan dirasa cukup, untuk menuju lokasi acara, Ahmad Zaini diboncengkan sepeda motor yang memang disiapkan untuk tamu dari Blora.
Betapa mongkok hati Ahmad Zaini saat itu, “Sopo sing ora seneng, isih enom ananging diajeni koyo ngono. Kui mergo ngayahi tugas soko NU,” imbuhnya. Sepeda onthel yang dibawanya dari rumah ditinggal di Sukorame, berganti tumpangan khusus bagi tamu utusan dari kabupaten.
Pertemuan pun dimulai. Ahmad Zaini duduk di deretan depan berdampingan dengan para kyai dan tokoh-tokoh santri di Kecamatan Tunjungan.
Dihadapan para pengurus MWC dan Ranting NU se-Kecamatan Tunjungan, Ahmad Zaini yang masih muda, berusia sekitar 25 tahun, memberi sambutan dan pengarahan, mewakili PCNU, atas nama PCNU dan tentu saja berbekal surat tugas dari PCNU.
Tentu tak semua peristiwa bisa diungkapkan. Termasuk pengalaman yang dirasakan Imam Mujtaba di Randublatung dan Muhadi di Banjarejo. Kejadian itu sudah terlewat cukup lama.
Lebih dari separuh abad. Yang dapat penulis rasakan, sungguh H. Basuki Rustam telah memberi ruang yang cukup longgar kepada anak-anak muda agar lebih cepat menjadi dewasa.
Ditulis oleh Dalhar Muhammadun (Ketua Lesbumi PCNU Blora)
Eksplorasi konten lain dari PCNU KABUPATEN BLORA
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
