News

Ikut Banser Ringankan Beban

Blora, PCNUBLORA – Tak semua orang beranggapan bahwa mengikuti sebuah organisasi itu melelahkan juga beban. Belum lagi punya tanggung jawab keluarga. Memberi nafkah kepada anak dan istri suatu bentuk tanggung jawab moral.

Sandang, pangan maupun papan dan lainnya wajib terpenuhi secara lahir maupun batin. Belum lagi ikut organisasi non profit, berkonsep khidmat, mengabdi dan berbakti. Bagaimana bisa memutar otak agar berimbang antara kepentingan organisasi dengan keluarga.

Menjadi anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) misalnya, pasukan elit Nahdlatul Ulama ini berdiri sejak tahun 1937 di bawah organisasi Gerakan Pemuda Ansor. Salah satu badan otonom (banom) NU yang ada sejak 1934. Tiga tahun lebih dulu ada sebelum Banser dan sebelum Republik Indonesia merdeka.

Salah satu organisasi kepemudaan terbesar di Indonesia ini memberikan banyak sumbangsih terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tanpa pamrih. Garda terdepan NU ini menyebar hingga ke pelosok desa bahkan dukuh.

Sekilas informasi di atas tanpa sedikitpun melunturkan semangat juang. Tetap membawa cita-cita kemerdekaan Indonesia. Ansor/Banser sepenuhnya khidmat.

Seorang anggota Banser, Margono asal Desa Purwosari RT 04 RW 04, Kecamatan Blora Kota, Kabupaten Blora ini beranggapan, mengikuti Banser merupakan kesempatan yang luar biasa, tidak semua orang bisa menjadi Banser. Teruji rekrutmennya. Jelas secara struktural.

Waktu telah menjawab, pengaruhnya terhadap organisasi menjadikan ruang tersendiri yang sulit diterjemahkan dengan kata-kata. Ia mampu memanage keseimbangan dari sebuah organisasi yang berkostum loreng ini.

“Menjadi anggota Banser itu kesempatan yang luar biasa. Berkhidmat kepada NKRI dan kiai harus diwujudkan. Dengan alasan apapun, Banser adalah benteng NU,” ucap pria berusia 42 tahun ini.

Dia mengikuti Pendidikan Pelatihan Dasar (Duklatsar) Banser tahun 1999 lalu. Margono mempunyai dua anak, yaitu Irfan Nur Wahid dan Ahmad Sirojul Anam. Keduanya buah hati yang ia dambakan, meski anggota Banser tetap bisa membagi waktu.

“Pada intinya di Banser kita niati bentuk tugas organisasi dan bentuk ibadah. Supaya tidak menjadi beban, tapi memperingan beban,” terangnya belum lama ini.

Pakaian Dinas Lapangan (PDL) ataupun Pakaian Dinas Harian (PDH) Banser nyaris setiap hari tidak pernah lepas dari tubuhnya. Ya minimal jaket Banser atau identitas lainnya. Tepat waktu saat bertugas. Seperti biasa, sebelum berangkat tugas Banser selalu ngeliling anaknya.

Tepat Hari Santri Nasional tahun 2022 saat jurnalis menulis tentang Margono. Ia bertugas menjadi komandan pleton saat upacara di pusat kota, Alun-alun Blora. Pada momen ini ia berdoa atas keluarganya semoga bahagia dunia akhirat.

“Keluarga kecil insyaallah bahagia dunia dan akhirat. Semoga keluarga kecil ini diakui jadi santrinya Mbah Hasyim,” harapnya. Besar harapannya untuk terus bisa berkhidmat untuk negri dan kiai, dengan tidak meninggalkan tanggung jawab sebagai seorang ayah. Sesuai dengan tema Hari Santri Nasional tahun 2022 ini, yaitu Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan.(jml)


Eksplorasi konten lain dari PCNU KABUPATEN BLORA

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Admin PCNU Blora

Selamat datang di situs online Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Blora. Kami menyajikan Informasi, program dan kegiatan dari PCNU Blora, Lembaga dan Banom, MWC serta Ranting. Di samping itu kami juga akan menyampaikan opini atau artikel yang berhubungan dengan khazanah Ahlussunnah Wal Jamaah yang bisa dibaca oleh kalangan yang lebih luas. Semoga website ini bisa bermanfaat bagi banyak pihak, khususnya jamaah maupun jamiyah NU di Kabupaten Blora.

One thought on “Ikut Banser Ringankan Beban

Tinggalkan Balasan